Skip to main content

Langkah tak bertepian oleh Diah Permata Sirait

Belumlah ketemu ujung perhentian ini.
Sampai kapan 
Entahlah...
Mungkin sampai napasku berhenti,
Dan lewat debu kotor itu,
Kubisikkan lagi pertanyaan.
Sudah jauhkan aku dariMu..?
Dan kebahagiaan seperti apa dari ketiadaanMu..?
Akh...
Andai bukan Engkau yang meminta,
Tak kan kujauhi diriMu.
Menjadikan pertanyaan tanpa jawaban,
Seperti engkau yang sering bisu dan lari.

Pantulkan bara,
Meninggalkan abu derita.
Telah ku jadikan neraka duniaku,
Tak ku temui lagi damaiku.
Jiwa-jiwaku berpergian,
Mengembalikan jiwa-jiwaku yang mengembara.
Titah-Mu memonopoli akal hingga rohaniku.
Bara-Mu membakar tungku pemanas bayanganku.
Bergejolak batin tak beraturan.
Aih, nurani suci,
Peluk erat diriku.
Daratkan aku disamudra dalam,
Biar napasku berhenti sunyi,
Dan kutemui kepasrahan pada Tuhanku.

***
Jangan lupa vote ya

Ig: Diahpermatasirait
Tentangrasa_official 

Comments

Popular posts from this blog

Menanti RUU PKS Disahkan

Menanti RUU PKS Disahkan Proses panjang RUU PKS. Bermula dari keresahan pada 2001, masih bergulir hingga kini. KASUS Agni dan Universitas Gadjah Mada yang berakhir “damai” juga kasus Baiq Nuril yang berakhir pemenjaraan dengan jerat UU ITE menambah panjang deretan kasus kekerasan seksual di tanah air. Mayoritas kasus itu berakhir menyedihkan. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) dalam laporannya menyebutkan, pada 2018 ada 7.238 kasus kekerasan seksual terhadap perempuan. Catatan Tahunan (Catahu) Komnas Perempuan yang dihimpun dari berbagai layanan aduan, menununjukkan jumlah kekerasan seksual pada 2017 mencapai 384.446 laporan. Aduan dari para korban yang langsung masuk ke Komnas Perempuan mencapai 1.301 laporan. Angka-angka tersebut baru mencakup kekerasan seksual yang dilaporkan. Padahal, keberanian korban untuk melaporkan kasus yang mereka alami masih rendah. Minimnya kebera...

Masjid Sukarno di Rusia

Masjid Sukarno di Rusia Kunjungan Sukarno ke Leningrad pada 1956 membawa berkah bagi muslim di kota itu. Masjid Agung St. Petersburg. MATA Presiden Megawati Sukarnoputri berkaca-kaca. Kisah tentang jasa mendiang Presiden Sukarno yang dibacakan Imam Besar Masjid Agung St. Petersburg, Zhapar N. Panchaev, membuatnya terharu, sewaktu berkunjung pada April 2003. Hampir 50 tahun lalu, Megawati –kala itu belum berusia sepuluh tahun– ikut rombongan ayahnya melakukan kunjungan kenegaraan ke Uni Soviet, Agustus-September 1956. Usai mengunjungi beberapa pabrik di Leningrad, rombongan Sukarno melanjutkan tur kotanya. Sewaktu melintasi Trinity Bridge, mata Sukarno terpaku pada bangunan biru berkubah di kejauhan. “Dalam taksiran Soekarno, bangunan itu jika sebuah masjid, mampu menampung lebih dari 3000 muslim bersembahyang berjamaah,” tulis ...

Duit

Duit Ini perkara duit. Teryata duit dari zaman dahulu kala selalu bikin jadi perkara.                   SEMUA orang di negeri ini tahu kalau memberantas korupsi itu lebih sulit daripada memberantas ketombe. Itu sebabnya Indonesia butuh lebih dari sekadar sampo anti-ketombe. Memerangi korupsi sudah dilakukan semenjak awal republik ini berdiri. Beragam lembaga telah didirikan, berbagai cara telah dilakukan, tapi rupanya korupsi bukan lagi wabah yang bisa dibasmi begitu saja. Prilaku koruptif seperti telah bermimikri jadi gaya hidup. Celakanya lagi, mengutip Bung Hatta pada 1970-an ketika mega korupsi Pertamina terjadi, “Korupsi telah jadi budaya,” katanya. Mungkin kecenderungan yang sama sudah diendus lebih dulu oleh antropolog Professor Koentjaraningrat yang menulis bahwa orang Indonesia itu punya “mentalitas menerabas”, berani melanggar hukum demi cepat sampai tujuan. Cepat kaya salah satunya. Di zaman yang s...